danau sentarumfriends of danau sentarumactivityeventsproductssuara bekakakgalleryprofile riak bumi
News
Menanam di Pulau Sepandan PDF Print E-mail

Meski agak gerimis, tidak menghalang semangat panitia pelaksana untuk pergi ke kampung Ukit-Ukit di awal Februari 2010. Sehari sebelum penanaman, diadakan acara workshop yang dilaksanakan di SMPN2 Batang Lupar di Ukit-Ukit, berjarak sekitar 20 km sebelah timur kota Lanjak, kegiatan ini diikuti sebanyak 30 siswa bersama dewan guru dan kepala sekolah, bertempat diruang kelas SMPN2, setelah persentasi dari Kang Endik Casdika KSPTN wilayah I Lanjak, peserta diajak mencicipi madu hutan TNDS, dan dilanjutkan Presentasi dari Heri (Direktur Riak Bumi) tentang pengenalan Yayasan Riak Bumi dan kegiatan lembaga, diakhir presentasi yang dipandu oleh Nina, 9 orang yang beruntung akan mendapatkan bingkisan menarik bila menjawab dengan benar pertanyaan seputar presentasi. Sorenya dilaksanakan di gedung Balai Adat Lanjak, diikuti 60 orang siswa dari SMPN1 Batang Lupar dan SMUN1 Lanjak. Antusiasme siswa-siswi terlihtanam_di_sepandanat sejak awal, belum lagi acara dimulai mereka telah memenuhi Aula Balai Adat, riuh sorak mewarnai permainan pembuka yang dipandu oleh Kang Ade dan Bang Boy, keduanya adalah anggota polhut BTNDS yang memandu acara pembukaan sosialisasi, setelah presentasi yang atraktif, dari Kang Endik dan Pak Heri, acara cicip madu, door prize, pada akhir acara siswa juga berkesempatan nonton bareng film tentang lebah madu hutan Apis Dorsata.


Hari berikutnya pagi-pagi, peserta sudah menyemut untuk registrasi dan mendapatkan kaos dan topi lapangan, tercatat sebanyak 90 orang yang berpartisipasi dalam kegiatan ini. Setelah registrasi peserta dan pengecekan alat-alat yang akan digunakan, peserta diberangkatkan tepat jam 07.30 WIB menggunakan kapal motor Riak bumi, Pak Itam sang Kapten Kapal dengan sigap melajukan kapalnya menyusuri sungai lanjak menuju muara ke-Danau Luar menuju lokasi penanaman di Pulau Sepandan.

Dipulau seluas 9,8 ha ini ditanami sebanyak 600 batang pohon local yang terdiri dari Tembesu, kawi Bungur dan jambu, Lokasi dibagi menjadi 3 site, masing-masing site dialokasikan untuk 1 kelompok guna mempermudah penanaman, mengingat medan yang cukup berat  untuk dijangkau, terjal dengan tingkat kemiringan tinggi, berbatu dan licin.Medan yang  berat menjadi tidak berarti bagi seluruh peserta yang terdiri dari siswa-siswi SMPN 1 dan SMPN 2, Batang Lupar , SMUN 1, Pamswakarsa, Muspika batang Lupar, Pemdes, MPA(masyarakat peduli api), SPI(satuan pengamanan intensif), tokoh masyarakat, Staff dan Polhut BTNDS dan Yayasan Riak Bumi, bahu membahu dengan penuh antusias dan semangat tinggi menyusuri medan rintisan, mencangkul dan menanam satu persatu pohon ‘jatah’ 6 pohon perorang, hingga kurang dari 2 jam pekerjaan yang mulia ini pun selesai.Tidak ada hambatan yang berarti selama kegiatan penanaman ini, setelah makan siang peserta diajak bertamasya ke Pulau Melayu yang masih berada dalam kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. (Jim)

 
Pakan Lebah Hutan Danau Sentarum PDF Print E-mail

Bunga-bunga sebagai pakan lebah hutan (Apis dorsata) di Danau Sentarum bersumber dari bermacam-macam bunga kayu hutan. Bunga kayu hutan ini mempengaruhi rasa, warna dan aroma madu hutan. Bunga-bunga hutan yang beragam ini bermekaran secara berurutan, tergantung  jenis kayu. Dilihat dari waktu berbunganya jenis kayu tersebut di atas ada beberapa bunga yang mekar pada bulan yang sama, dengan demikian sangat memungkinkan bahwa madu berasal dari campuran beberapa jenis bunga kayu. Mungkin bisa lihat jenis kayu yang dominan untuk menentukan rasa yang lebih kuat dari jenis bunga yang mana. pakan_lebah

Menurut masyarakat Danau Sentarum, madu yang rasanya paling enak dan manis dari berbagai jenis bunga pakan lebah hutan ini adalah dari Bunga Akar Libang, Emasung, Taun, Kayu Samak dan Marbemban. Dari jenis-jenis bunga di atas yang paling banyak menghasilkan madu yaitu: Putat, Emasung, Taun, Marbemban. Sedangkan jenis-jenis bunga yang kurang menghasilkan madu karena populasi pohon bunganya sedikit adalah kayu Samak dan kayu Kebesi.
Kayu Ubah Pinang dan Belantek tumbuh di daerah dataran tinggi di kawasan Danau Sentarum. Bunga Akar libang biasanya disenangi lebah yang bersarang di pohon tinggi atau lalau. Akar libang tumbuh di pinggir sungai dan lebih tinggi di bandingkan dengan jenis  kayu-kayu disekitarnya, namun sekarang sudah sulit ditemui karena adanya pembukaan ladang yang padinya di tanam setiap 3 bulan sekali.

Bunga Masung atau biasa di sebut juga bunga kayu Tingkau , sering didapati tumbuh di tepian sungai namun tidak banyak menghasilkan madu. Saat bunga Masung bersemi biasanya lebah mulai datang, namun lebah tidak banyak mengambil sari dari bunga ini, karena bunga ini hanya mengundang lebah untuk datang.

Karena rasa madunya yang pahit, bunga kayu Bekeras biasanya disukai oleh pembeli untuk keperluan obat. Paling sering orang Cina yang senang memesan dan membeli jenis madu ini.

Bunga kayu hutan ini secara umum urut-urutan mulainya sama, namun di beberapa dusun kampung terdapat perbedaan. Demikian pula dengan waktu mulai mekarnya tidak dapat dipastikan, secara umum dapat dikatakan bahwa musim bunga kayu mulai mekar pada bulan September hingga bulan Maret. Namun kadang-kadang musim panen madu bisa dua kali setahun. Adakalanya panen di bulan Maret, namun jumlah panennya sangat sedikit. Sedangkan panen raya biasanya pada bulan September hingga Maret.

Lebah hutan akan datang ke kawasan Danau Sentarum, ketika bunga kayu hutan ada. Jika bunga pakan tidak cukup biasanya lebah hutan ini hanya membesarkan anak-anaknya, kemudian mereka akan segera berpindah, jadi ketika petani datang yang ada hanya sarang yang telah ditinggalkan tanpa madu. Mereka mengistilahkannya dengan ”idang”.

Menurut keterangan masyarakat di Danau Sentarum, pada saat bunga tidak bermekaran lebah-lebah hutan migrasi ke daerah-daerah perbukitan misalnya di daerah Bukit Semujan di tebing-tebing bukit batu dan lebah-lebah hutan tersebut menghisap cairan-cairan yang ada di hutan seperti cairan-cairan jamur dan air keringat yang ada di pakaian serta cairan-cairan yang ada di ikan asin ketika sedang di jemur. Hal ini dilakukan untuk bertahan hidup sementara menunggu musim bunga datang.

Lebah-lebah hutan ini populasinya tidak banyak dan tidak bertambah. Oleh karena itu, madu dari pohon tinggi lebih rendah kadar airnya dibandingkan dengan madu dari tikung. Selain itu, warna madu dari pohon tinggi lebih kemerah-merahan dibandingkan dengan warna tikung.

Bunga-bunga kayu hutan ini bermula dengan jenis-jenis ”kayu bukit” yang tumbuh relatif lebih tinggi di daerah perbukitan. Jenis bunga kayu ini sebagai pakan bagi lebah yang membuat sarang di lalau (lebah hutan dari pohon tinggi). Madu yang dihasilkan dari bunga kayu bukit ini, relatif lebih kental dibandingkan dengan bunga kayu pantai dan warnanya kemerah-merahan. Setelah itu baru jenis-jenis bunga yang berada di ”daerah pantai” yang tumbuh di dataran rendah di tepi danau-danau di kawasan Danau Sentarum. Jenis kayu pantai ini yang paling banyak menghasilkan madu hutan di kawasan ini.

Jenis-jenis bunga kayu yang tumbuh di dataran tinggi lebih kental karena jauh dari permukaan air dan kadar airnya pun rendah, kalau biasanya dari jenis kayu pantai 27%, maka jenis kayu tinggi lebih rendah dari ini, berkisar 21-24%.

 
Di Balik Penyerahan Sertifikasi Madu PDF Print E-mail
Hari itu, tanggal 16 Juli 2007, setelah menanti sejak pagi hari di Ruang Sidang Hotel Safari Garden, Cisarua , Bogor,  akhirnya pada jam 22.12 malam, di bagian akhir acara pembukaan Rapat Koordinasi Teknis Bidang Perlindungan Hutan Dan Konservasi Alam (PHKA), tibalah saat yang dinantikan. Pemandu acara mengumumkan: ”Penyerahan sertifikasi madu hutan yang akan diberikan kepada masyarakat petani lebah madu yang merupakan binaan Taman Nasional Danau Sentarum yang berlokasi di Desa Nanga Leboyan, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Untuk itu kepada Bapak A. M. Ronny Mulyadi, selaku wakil dari masyarakat petani lebah madu untuk maju ke depan. Dan kami mohon perkenan Bapak Mentri Kehutanan dengan didampingi Bapak Dirjen PHKA dan SekJen DepHut untuk menyerahkan sertifikasi dimaksud”.

Menteri Kehutanan, Pak MS Kaban kemudian menyerahkan Sertifikat Produk Organik yang dikeluarkan oleh BIOCert (Board of Indonesian Organic Certification) kepada Pak Mulyadi dengan disaksikan oleh Dirjen PHKA, Pak Arman Lolongan dan Kepala Balai Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS), Pak Soewignyo yang menyertai Pak Mulyadi. Pak Kaban mengucapkan beberapa patah kata kepada Pak Mulyadi sambil memberi kesempatan kepada beberapa fotografer untuk mengabadikan peristiwa itu. Setelah itu terdengar tepuk tangan meriah dari Kepala Balai-Kepala Balai Taman Nasional dan Konservasi Sumber Daya Alam dari seluruh Indonesia, yang menghadiri Rapat Koordinasi itu. Selesai penyerahan sertifikat, Bapak Soewignyo kemudian dengan ramah membimbing Bapak Mulyadi kembali ke tempat duduknya.

Pak Mulyadi sebenarnya adalah Kepala Seksi Pelatihan dan Pencatatan Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS) yang ditugaskan mewakili APDS menerima penyerahan sertifikat, karena Presiden APDS, Pak Suryanto berhalangan hadir. Saat-saat penyerahan sertifikat itu memang ditunggu-tunggu oleh APDS, karena sertifikat itu merupakan konfirmasi BIOCert atas hasil jerih payahnya selama setahun lebih mengorganisir diri dengan sistem ICS (Internal Control System) untuk dapat menjaga lingkungan habitat lebah madu hutan dan menghasilkan madu hutan organis. Penyerahan sertifikat oleh Mentri Kehutanan juga merupakan bentuk pengakuan pemerintah dalam hal ini Balai TNDS dan Departemen Kehutanan, bahwa masyarakat dengan prakarsanya sendiri dapat diandalkan untuk menjaga kawasan Taman Nasional, sekaligus menarik manfaat ekonomi dari madu hutan secara arif dan berkelanjutan.

APDS adalah organisasi rakyat dari sekitar 89 petani madu hutan yang berasal dari 5 Periau (organisasi tradisional petani madu hutan), yaitu Periau Suda, Meresak dan Danau Luar dari Kampung Nanga Leboyan, Periau Semangit dari Kampung Semangit, dan Periau Semalah dari Kampung Semalah. Semuanya terletak di Desa Nanga Leboyan dan meliputi wilayah kelola sekitar 7.300 ha dengan produksi madu hutan antara 4 – 10 ton per tahun. Tahun ini juga akan bergabung 10 periau lagi ke dalam APDS (yaitu periau Tempurau, Nanga Telatap, Pulau Majang, Lubuk Kelekati, Lubuk Pengail, Belibis Panjang, Pengembung, Nanga Sumpak, Pemerak dan Lupak Mawang), sehingga jumlah anggota APDS akan menjadi sekitar 275 orang. Luas kawasan periau yang dikelola dan dijaga oleh APDS akan mencapai sekitar 28 ribu hektar, atau sekitar 25% dar luas kawasan TNDS dengan potensi produksi madu hutan antara 12 – 25 ton.

Organisasi rakyat ini berdiri perlahan-lahan, setelah melalui serangkaian proses yang melibatkan masyarakat setempat, dan banyak pihak yang mendukung. Proses dimulai pada bulan Pebruari 2005, saat tiga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yaitu Riak Bumi (RB), Yayasan Dian Tama (YDT) dan People Resources And Conservation Foundation (PRCF), anggota Aliansi Organis Indonesia (AOI) dan anggota Jaringan Kearifan Tradisional Indonesia (JKTI) melakukan asesmen di desa Nanga Leboyan.

Hasil asesmen itu memberikan jalan bagi terlaksananya pelatihan Sistem Pengawasan Mutu Internal/Internal Control System (SPMI/ICS) yang difasilitasi oleh AOI dan didukung oleh RB, YDT, PRCF dan World Wild Fund (WWF) Putussibau dan Tessonilo. Pelatihan diadakan pada tanggal 23 – 26 Pebruari 2006 di Nanga Leboyan dan diikuti oleh sekitar 35 orang petani madu hutan dari Desa Nanga Leboyan, Ukit-Ukit, Kayan Mentarang – Kaltim, dan Tessonilo – Riau. Pada pelatihan itu para petani madu hutan meletakkan dasar-dasar bagi pembuatan standar proses penjagaan kawasan, panen, pasca panen, pengangkutan, dan penyimpanan yang berdasarkan pengetahuan dan kearifan setempat yang memang sudah diterapkan sejak dulu dan diperbaharui terus-menerus, dan juga meletakkan dasar-dasar bagi pembuatan standar mekanisme organisasi yang mengandalkan pengawasan internal.

Pengorganisasian ke dalam dimulai pada tanggal 18 – 19 Mei 2006 di Nanga Leboyan, yang dilanjutkan dengan Pemetaan Periau pada tanggal 20 – 24 Mei 2006 di Periau Danau Luar, Suda, Mersak, Semangit dan Semalah dan Pelatihan Inspektor Internal pada tanggal 28 – 29 Juni 2006 di Semangit.

Pada tanggal 20 – 21 Juli  2006 di Semangit, APDS dengan 89 anggota meresmikan statuta pendiriannya, susunan pengurusnya, Standar APDS dan Mekanisme Organisasinya.

Setelah berdiri, APDS langsung mempersiapkan jalan untuk bergabungnya periau-periau lain ke dalam APDS. Setidaknya ada 4 kegiatan yang dilakukan untuk menyebarkan standar APDS, yaitu

  1. Penjelasan Sistem Panen Lestari yang dilakukan APDS  pada tanggal 29 September – 1 Oktober 2006 di 10 kampung, yaitu: Meliau, Tempurau, Pega, Sekulat, Pengembung, Tekenang, Lubuk Pengail, Lubuk Kelekati, Pemerak dan Pulau Majang.
  2. Pelatihan Teknik Panen Lestari yang dilakukan APDS  pada tanggal 12 – 13 Desember 2006 di 12 kampung, yaitu Meliau, Tempurau, Nanga Telatap, Pega, Sekulat, Genting, Pengembung, Lubuk Pengail, Lubuk Lawah, Pemerak, Nanga Sumpak, dan Pulau Majang.
  3. Praktek Teknik Panen Lestari di Siang Hari yang diadakan pada tanggal 14 – 15 Desember 2006 di Semangit dan Pega, yang dihadiri oleh perwakilan periau dari 12 kampung, yaitu: Meliau, Tempurau, Nanga Telatap, Pega, Sekulat, Genting, Pengembung, Nanga Sumpak, Tekenang, Lubuk Lawah, Lubuk Kelekati dan Pulau Majang.
  4. Pelatihan SPMI/ICS yang diadakan pada tanggal 22 – 23 April 2007 di Semangit, yang dihadiri oleh perwakilan periau dari 10 kampung, yaitu: Lupak Mawang, Belibis Panjang, Tempurau, Nanga Telatap, Pengembung, Nanga Sumpak, Pemerak. Lubuk Pengail, Lubuk Kelekati, dan Pulau Majang

Pada bulan Maret 2007 dengan penerapan SPMI/ICS APDS berhasil memastikan 4,3 ton madu hutan yang dipanen pada bulan Pebruari - Maret 2007 sebagai produk berkualitas organis. Ini dikonfirmasi oleh BIOCert pada tanggal 11 Mei 2007 setelah melakukan inspeksi eksternal langsung di lapangan pada tanggal 9 - 13 Pebruari 2007 dan pada tanggal 30 April 2007.

Pada tanggal 22 Pebruari 2007 APDS menandatangani kontrak penjualan 4 ton Madu Hutan dengan Dian Niaga Jakarta, Mitra Utama Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI) dengan harga Rp 28.000 di gudang APDS. 4,04 produk itu dikapalkan pada tanggal 24 Maret 2007 dan tiba di Jakarta pada tanggal 3 April 2007.

Dengan RB, APDS juga menandatangani kontrak penjualan 260 kg madu hutan pada tanggal 01 Mei 2007 dengan harga yang sama. Produk dikapalkan pada tanggal  26 Mei 2007 dan tiba di Pontianak pada tanggal 30 Mei 2007.

Bagian yang tersulit tapi berharga dari rangkaian proses itu tentu saja adalah penerapan SPMI/ICS pada musim panen madu hutan bulan Pebruari – Maret 2007. Muncul ketegangan-ketegangan antara pengurus APDS sendiri, antara inspektor internal APDS dan anggota, antara anggota APDS dan yang bukan anggota. 

Salah satu pembelajaran dari proses itu adalah sebagai berikut. Ada perbedaan budaya, perubahan dari hubungan emosional ke hubungan fungsional. Budaya yang terkandung dalam SPMI/ICS adalah budaya pengawasan manjemen dan tanggung jawab personal. SPMI/ICS mengharuskan mengdokumentasikan semua peristiwa transaksi dan pengawasan dalam bentuk laporan tertulis. SPMI/ICS mensyaratkan keterbukaan, disiplin lebih dan sanksi tegas. Karenanya muncul ketegangan antara budaya tulisan dan budaya verbal, antara pengawasan manajemen dan cara pengelolaan kekeluargaan, antara berbicara di belakang dengan ekspresi segan/malu dan berbicara terbuka di forum organisasi, antara sikap disiplin dengan sanksi tegas dan sikap permisif serta longgar.

Yang menarik, kepemimpinan di dalam APDS cukup kritis dan tanggap dalam menghadapi perbedaan-perbedaan dan ketegangan-ketegangan. Perbedaan-perbedaan diterima dan disesuaikan dengan selaras untuk menjaga solidaritas sosial. Pengawasan dijalankan dengan tegas tetapi tetap menjaga keharmonisan hubungan. Keterbukaan tidak untuk mempermalukan anggota, dan sanksi tidak untuk menghukum tetapi untuk mengingatkan dan untuk memperbaiki hubungan sosial yang retak.

Yang menarik lagi, kepemimpinan APDS dan banyak pihak memanfaatkan SPMI/ICS ini terutama untuk mengkombinasikan pengorganisasian komunitas dengan bisnis komunitas untuk meningkatkan posisi tawar, tidak semata untuk memperoleh sertifikat organis.

Seandainya karena faktor eksternal, produk madu hutan tidak dapat dinyatakan organis, kepemimpinan APDS berketetapan akan jalan terus dengan SPMI/ICS, terutama untuk menyatukan penghasil madu hutan agar dapat memelihara lingkungan bersama dan menjual bersama lewat satu saluran. Di Semangit, Pak Mulyadi mulai menggunakan bahan-bahan SPMI/ICS untuk pengorganisasian kelompok nelayan di kampungnya. Posisi dalam organisasi nelayan itu sangat jelas tugas, tanggungjawab, kewajiban, dan wewenangnya. Di Belibis Panjang, Pak Azis Muslim, kandidat anggota APDS juga memanfaatkan bahan-bahan SPMI/ICS untuk pengorganisasian warga kampung yang berbisnis ikan salai (ikan asap) dan bahan bakar minyak (BBM).

Mengapa hal ini dapat berjalan dengan lancar. Mungkin ini karena karakteristik kearifan kelompok periau. Karakteristik yang dimiliki oleh komunitas periau yang umumnya para pemburu madu, terutama yang tua dan berpengalaman, adalah orang-orang yang sabar dan teliti dalam bekerja, penuh perhitungan, sangat mengandalkan dukungan teman kerja, rajin bekerja, sangat memperhatikan lingkungan sekitarnya, tidak serakah mengambil hasil, dan keselarasan memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kerja. Bila tidak selaras, tidak akan ada hasil yang diperoleh, malahan bahaya sengatan lebah yang didapat. Ini membuka pikiran, bila organisasi komunitas periau ini dapat tumbuh dan berpengaruh kuat di TNDS, dapatlah diharapkan seluruh pengelolaan sumber daya alam di TNDS akan sangat dipengaruhi oleh SPMI/ICS APDS yang telah diadaptasi oleh karakter kelompok periau.

Sangat mungkin bahwa hal ini terlihat oleh Kepala Balai TNDS, sehingga APDS dipromosikan untuk menerima sertifikat BIOCert melalui Menteri Kehutanan. Konfirmasi yang diberikan oleh BIOCert kepada APDS semakin diperkuat oleh pengakuan dari pihak Balai TNDS dan Depatemen Kehutanan. Mudah-mudahan harapan banyak pihak kepada APDS dapat direalisasikan dengan modal semangat solidaritas, partisipasi, dan keterbukaan serta kekuatan rakyat yang dikandung ketiganya. (Irawan-Riak Bumi).

 
Baru Ada Unit Khusus TNDS PDF Print E-mail

Sejak diubah statusnya dari kawasan Suaka Margasatwa menjadi Taman Nasional pada tahun 1999, Danau Sentarum baru pada bulan Oktober tahun 2006 mempunyai Unit pelaksana Teknis. Sebelumnya Taman Nasional Danau Sentarum dikelola oleh Balai Konservasi Alam (BKSDA) Propinsi Kalimantan Barat.

Departemen Kehutanan telah membentuk Unit pelaksana Teknis (UPT) TNDS sebagai pemegang otoritas pengelolaan (management authority) dan menunjuk Pak Suwignyo sebagai Kepala Balai Taman Nasional Danau Sentarum yang pertama kali.

Selamat Kepada Pak Suwignyo! Harapannya UPT TNDS ini akan berperan penting dalam pengelolaan TNDS yang memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat dan perlindungan ekosistem lahan basah.

 
Pemilihan Pengurus POKJA TNDS PDF Print E-mail

Seusai mengikuti acara pertemuan Konsultasi Publik RPTNDS ini, pada tanggal 30 Maret 2007 di Putussibau kelompok masyarakat Taman Nasional Danau Sentarum mengadakan pertemuan internal untuk membentuk kepengurusan Kelompok Kerja Masyarakat Taman Nasional Danau Sentarum dan sekitarnya.

Dari hasil pertemuan ini maka terbentuklah kepengurusan POKJA Masyarakat TNDS dan sekitarnya sebagai berikut:Ketua: Jeni; Wakil Ketua: Abdul Muin; Sekretaris: Ja’far Hendri; Bendahara: Harryanto.

Hasil pertemuan internal ini kemudian ditanda tangani oleh seluruh anggota POKJA sebagai bukti persetujuan dan pengesahan kepengurusan POKJA.

 
Rencana Pengelolaan TNDS 25 Tahun PDF Print E-mail
Sebagai salah satu situs Ramsar dan berstatus taman nasional, kawasan TNDS harus memiliki rencana pengelolaan yang sejalan dengan tujuan penetapan dan pengelolaan kawasan konservasi yaitu terutama ditujukan untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya agar dapat mendukung upaya peningkatan kesejahteraan dan mutu kehidupan masyarakat sekitar.
Read more...
 
side-poster5.jpg