danau sentarumfriends of danau sentarumactivityeventsproductssuara bekakakgalleryprofile riak bumi
Event
Riak Bumi ke Apimondia 2009 di Prancis PDF Print E-mail
Riak Bumi diwakili oleh Valentinus Heri ikut dalam Apimondia 2009 yang diadakan di Prancis bulan September lalu. Heri mewakili koordinator sekretariat JMHI dan selain itu juga ada Pak Johnny Utama dan Wahyu Widhi dari Dian Niaga Jakarta mewakili sekretariat bagian pemasaran.  Apimondia ini diadakan setiap tiga tahun sekali. Tiga tahun lalu Apimondia diadakan di Australia dimana Heri mewakili JMHI juga untuk pertama kalinya mengikuti acara tersebut.

Mengikuti pertemuan ini merupakan pengalaman yang luar biasa, dimana JMHI mempresentasikan tentang madu hutan apis dorsata, jaringannya, keanggotaannya dan kisah suksesnya dalam membangun jaringan madu hutan di Indonesia. Kita mesti berbangga bahwa madu hutan apis dorsata dipromosikan ke tingkat pertemuan dunia.

Apimondia ada untuk mempromosikan secara ilmu pengetahuan, ekologi, social dan ekonomi tentang pengembangan perlebahan di seluruh negara dan kerjasama dengan asosiasi petani lebah, lembaga peneliti dan perorangan yang terlibat dalam perlebagan di seluruh dunia. Apimondia ini bertujuan untuk bertukar pengalaman dan diskusi melalui seminar, kongres dan seminar dimana para petani, peneliti, pedagang dan pemerintah bertemu mendengarkan diskusi dan belajar satu dengan yang lainnya.
 
Heri Selected As Ashoka Fellow 2009 PDF Print E-mail
Dear Friends,We would like to announce you that our friends VALENTINUS HERI just has selected as ASHOKA INDONESIA FELLOW (www.ashoka.or.id). Heri has nominated as social enterpenuer 2009 because of his original idea to develop forest honey network Indonesia that begun from his experience in facilitate for about 15 years of forest honey collector group in Danau Sentarum National Park and try to replicate the success in other forest honey collectors in Indonesia and other countries through forest honey network Indonesia.

We realize actually this is our (all of us) success because this will not possible without your support, work hard, commitment and cooperation. Therefore, on behalf of Riak Bumi we would like to say thanks to all of you and hope forest honey network Indonesia will get more success for the next.
 
Menuju Danau Sentarum Impian 2014 PDF Print E-mail
Riak Bumi bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Danau Sentarum menyelenggarakan pertemuan tahunan masyarakat Taman Nasional Danau Sentarum di Lanjak Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu pada bulan Maret 2009. Pertemuan tahunan masyarakat TNDS ini sudah yang ke empat kalinya. Secara berturut-turut mulai di Nanga Leboyan, Pulau Majang, Empanang dan Lanjak.

Pertemuan tahunan di Lanjak ini melibatkan sekitar 120 orang perwakilan masyarakat Danau Sentarum dari 18 kampung yang berasal dari organisasi-organisasi kelompok masyarakat yaitu: kelompok nelayan, kelompok petani madu hutan, kelompok perempuan pengerajin, kelompok radio komunitas, kelompok kepala desa/dusun dan kelompok adat. Dalam pertemuan ini juga melibatkan pihak pemerintah kabupaten Kapuas hulu dan beberapa LSM yang mempunyai keperdulian terhadap TNDS misalnya WWF Putussibau, FLEGTI dan Walhi.

Pertemuan ini merupakan pertemuan yang sangat menarik, karena perwakilan masyarakat menyampaikan impian mereka selama 5 tahun ke depan dalam bentuk drama. Sesuatu metode baru yang coba diterapkan dalam pertemuan tahunan dengan difasilitasi oleh Inspirit, dimana metode yang dipergunakan adalah “appreciative inquiry”. Metode ini berusaha menggali dan mengumpulkan kekuatan yang ada di masyarakat bahwa dengan menumbuhkan kebanggaan mereka sebagai masyarakat di Danau Sentarum mereka mampu memimpikan dan mencapai impian itu ke depan.

Pertemuan tahunan sebelum-sebelumnya lebih menggunakan pendekatan masalah. Sehingga yang muncul adalah keluhan dan tuntutan kepada pihak luar untuk menyelesaikan masalah mereka. Metode appreciative inquiry ini justru sebaliknya, mereka berupaya menggapai mimpi mereka dengan kekuatan yang ada. Riak Bumi juga mengundang teather “dapur” dari Pontianak untuk memberikan pelatihan singkat untuk persiapan pementasan dan mereka juga mementaskan sebuah drama dengan judul “oleh-oleh dari kota”. Suasana pertemuan kali ini lebih seperti sebuah perayaan dan nantinya pertemuan tahunan ini menjadi sebuah festival masyarakat yang didalamnya tidak hanya pertemuan, tetapi juga hiburan, pameran, perlombaan dan lain-lain sehingga menjadi meriah dan hidup.

Secara umum impian masyarakat Danau Sentarum ingin supaya madu hutan lebih banyak, ikan lebih banyak, tidak ada lagi penggunaan racun dan warin untuk menangkap ikan, adanya fasilitas pendidikan dan kesehatan yang lebih memadai untuk masyarakat dan ekspansi perkebunan kelapa sawit terhenti. Impian masyarakat ini dibuat visual dalam bentuk poster berukuran 3x4 meter yang didistribusikan ke tiap kampung perwakilan di 18 kampung. Hal ini dimaksudkan supaya mereka terus mengingat sampai 5 tahun ke depan mimpi mereka dan berusaha setiap saat untuk mewujudkan impian tersebut. Semoga!
 
Taman Anggrek Alami di Selimbau PDF Print E-mail
Rentang masa berlalu…dari kegiatan mengidentifikasi anggrek di Taman Nasional Danau Sentarum. Anggrek Alam yang menjadi target untuk di identifikasi keberadaan dan jenisnya. Namun dalam pemantauan keberadaan anggrek,  kami selalu berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat, termasuk masyarakat yang memang mulai menyukai tanaman hias setelah mengetahuinya.

Selimbau, salah satu Kecamatan yang wilayahnya berada di TNDS. Kerap kali kami selalu mampir di sini sebelum masuk ke danau atau sebaliknya setelah dari danau. Interaksi yang di bangun dengan “teman-teman” yang telah memiliki ketertarikan dengan tanaman Anggrek selalu terjalin, termasuk saling memberi informasi akan potensi anggrek alam di sekitar wilayah Kecamatan Selimbau. Tahap demi tahap di transformasikan ; pengenalan jenis, perlakuan, dan apresiasi terhadap anggrek alam dan lain-lain.

Selanjutnya mulai didorong pembentukan wadah bagi para penggemar anggrek di Selimbau agar bisa lebih solid dalam pengelolaan dan pemanfaatannya. Para perangkat desa dan kecamatan pun tak luput dari upaya mengapresiasikan tentang anggrek alam.

Pada hari Minggu pagi, tanggal 27 April 2008 diresmikan-lah  Taman Anggrek Alami di Selimbau, proses pemantauan yang dilakukan selama ini di wilayah kota Kecamatan Selimbau banyak ditumbuhi dan ditemui anggrek alam terutama jenis Coelogyne pandurata baik yang tumbuh di pohon pinggir sungai bahkan ditemukan juga banyak yang tumbuh di tanah, terutama di komplek makam raja Selimbau.

Keberadaan komplek makam raja, areal di belakangnya dahulu merupakan lapangan sepak bola…dan ternyata kini menjadi tempat yang cocok karena lantai tanahnya berlumut bahkan terdapat berbagai jenis anggrek alam serta Nephentes (Kantong Semar). Keberadaan makam raja yang menjadi cagar budaya bagi masyarakat dan ternyata di areal tersebut juga terdapat potensi yang bisa menjadi aset bagi masyarakat Selimbau tentunya (Anggrek alam yang tumbuh secara alami dalam satu kawasan area). Bersama-sama para perangkat Kecamatan, Kerabat Istana kerajaan Selimbau, para Kepala Desa dan Dusun serta para personil wadah pecinta dan penyayang anggrek Selimbau KWADS (kelompok wisata anggrek Danau Sentarum) menyaksikan dengan jelas tentang kekayaan yang mereka miliki. Pada waktu menjelang siang acara baru selesai dilaksanakan, dilanjutkan berkeliling dengan perahu di sekitar kota Kecamatan untuk melihat dan memberi tanda pada pohon yang menjadi “Aset wisata”.

Sebagai asset wisata di ibu kota Kecamatan Selimbau tentu menjadi daya tarik dan perhatian, dengan harapan akan tumbuh rasa memiliki(dijaga d an dipelihara) tapi bukan untuk “dimiliki”.

 
Tolak Bala Di Danau Sentarum PDF Print E-mail

Tanggal 21 April 2008, di kaki Bukit Tekenang dalam kawasan Taman Nasional Danau Sentarum dilakukan upacara Tolak Bala yang merupakan rangkaian proses acara pertemuan tahunan . Setelah dua hari penuh be-berapa wakil masyarakat dari setiap kampung berkumpul di Desa Laut Tawang Dusun Empanang TNDS untuk melakukan Pertemuan Tahunan. Berbagai hal telah menjadi agenda pembahasan ; Adat, Nelayan, Periau, Kerajinan dan Radio Komunitas.

Secara bersama dari masing-masing etnis yang terdapat di TNDS baik Melayu, Iban, Kantuk dan Embaloh (MIKE) melakukan prosesi (ritual) menurut tradisi budaya dan caranya masing-masing. Berbagai kebutuhan ritual ; Ayam, Babi, dan perlengkapan yang diperlukan telah dipersiapkan sebelumnya. Acara tolak bala bersama tersebut telah diatur sebagai rangkaian penutup dari acara pertemuan tahunan di Empanang 19-20 April 2008. 

Cuaca cukup cerah pagi hari itu, para rombongan dengan kendaraan motor bandong, speed dan tempel bergerak menuju ke arah Bukit Tekenang. Kurang lebih dua jam perjalanan dengan motor bandung menelusuri hulu sungai Tawang, seluruh peserta tiba dan mempersiapkan rangkaian prosesi (ritual) yang akan berlangsung. Setelah semua siap, semua bergerak ke salah satu sisi pantai Bukit Tekenang yang telah dipersiapkan untuk memulai ritual Tolak Bala.

Dilokasi pantai pendaratan yang masih cukup rimbun dipenuhi berbagai jenis pohon hutan dan masing-masing peserta memilih tempat yang tepat untuk memulaikan prosesi (ritual) tersebut. 

Atmosfir magis-pun meraup rimba raya TNDS, suasana dialogis supra natural terasa di pagi menjelang siang hari itu, asap pedupaan-pun mulai tercium di areal tempat berlangsungkannya Tolak Bala. Suasana sakral membahana dalam back sound syair mantra dan lengkingan pekikan yang sekali-sekali terdengar  dalam tempo rytme suara alam.

Masing-masing tetua adat ; Panglima, Tumengung, Patih, Punggawa, yang  mengambil peran kunci dalam menga-rahkan jalannya proses Tolak Bala. Busana warna-warni dengan motif khas dari setiap etnis semakin membuat khusuk dan khitmat kebersamaan. Kabarnya acara Tolak Bala tersebut adalah yang pertama kali diadakan di Danau Sentarum dan Kapuas Hulu.

Intinya, mereka memanjatkan sebuah harapan yang sama yaitu:terciptanya suasana yang tentram, damai, nyaman dan aman, dalam kebersamaan hidup di alam raya TNDS bagi semua makhluk dengan tradisi dan cara masing-masing. Selain itu terhindar dari segala marabahaya yang dapat mengancam masyarakat di Taman Nasional Danau Sentarum dan sekitarnya baik kehidupan saat ini dan masa yang akan datang.

Pada hari itu acara berlangsung dengan lancar, sebelum pukul 3:00 sore. Ritual selesai dan peserta kembali ke daerah masing-masing dengan berbagai hal/kisah yang akan mereka sampaikan ke warga setibanya di kampung masing-masing.

 
Menarik..!! itu kata yang terungkap pada waktu menyimak rangkaian proses Tolak Bala di Bukit Tekenang pada tanggal 21 April kemarin. Mungkin ritual ini bisa dilihat dari berbagai perspektif, namun saat ini kita coba melihatdari segi Potensi Wisata Danau Sentarum.

Pariwisata

•     TNDS yang memiliki Biodivercity dan fenomena alam serta keragaman budayanya, menjadi daya tarik yang kuat untuk kegiatan Ecotourism.

•     Agenda budaya dari masing-masing etnis menjadi perekat budaya dalam keberagaman.

•     Keragaman budaya dalam kebersamaan ritual yang harmonis di Bukit Tekenang dapat menjadi perekat yang kuat dalam upaya pemberdayaan segala hal yang potensial di TNDS. ( Tokoh Adat, Masyarakat, LSM, Balai TNDS dan lain-lain)

•     Menjadi salah satu ikon dalam upaya mendukung program “Tahun Kunjungan  Wisata di TNDS 2010”  

Catatan:

Tolak Bala bersama mungkin bisa saja dijadikan semacam agenda “Festival Budaya Danau Sentarum” yang perlu dikemas dengan baik untuk pelaksanaan tahun yang akan datang. Selain tolak bala,mungkin bisa juga ada acara Selamatannya. Oleh karena itu pada saat kegiatanan seperti ini diadakanlah dapat diadakan juga berbagai berbagai kegiatan, seperti lomba sampan, pameran potensi dari masing-masing desa, pemutaran film dan lain-lain. Dengan harapan tentunya agar dapat saling menopang upaya pemanfaatan, pengelolaan, pelestarian TNDS bagi masyarakat yang ada di TNDS dan sekitarnya serta untuk kita bersama.

Setahu saya juga, di desa Leboyan setiap tahunnya diada-kan ritual tolak bala bersama warga atau selamatan kam-pung dimana acara tersebut hanya dalam ruang lingkup desa Nanga Leboyan. Hampir setiap sampan atau perahu yang ada dipergunakan dalam arak-arakan keliling desa sambil membacakan doa-doa dan mengumandangkan Azan pada beberapa tempat yang menjadi batas kampung sebagai jalur keluar dan masuk ke desa. (zul_ms)

Tujuan dari Ritual Tolak Bala

Tolak bala di Danau Sentarum merupakan rangkaian ke-giatan pertemuan tahunan masyarakat Danau Sentarum di Empanang, April 24, 2008. Meski dengan istilah dan upacara yang sedikit berbeda, kegiatan ini ditujukan untuk menenangkan penguasa tanah dengan memberi korban binatang dan beberapa hal lain. Diharapkan tanah yang dinyatakan sebagai kawasan taman nasional ini memberi berkah pada setiap orang yang tinggal dan bekerja di dalam kawasan maupun sekitarnya.

Berdasarkan percakapan bersama beberapa pemuka adat dari empat suku di Danau Sentarum; Melayu, Iban, Kantuk, Embaloh, (MIKE) tolak bala merupakan istilah yang digunakan masyarakat melayu untuk mengartikan pemberian makan kepada tanah di tempat mereka membuka lahan pertama kali. Kegiatannya berupa menyembelih seekor ayam, bagian darah di buang ke air dan kepala di buang ke tanah. Ini merupakan symbol untuk menenangkan para penguasa tanah. Ritual ini diikuti makan bersama berupa nasi atau makanan ringan. Pembacaan doa selamat menjadi pembuka dan penutup. Diharapkan Tuhan melindungi dan memberi berkah pada mereka yang bekerja di wilayah yang didoakan.

Demikian pula masyarakat Dayak, kegiatan serupa dinamakan muja. Muja dimaksudkan untuk berdamai dengan penguasa tanah, air, udara atau penguasa alam bawah yang mereka sebut petara. Bedanya binatang yang di korbankan adalah babi. Sebenarnya untuk hewan kurban bergantung seberapa besar upacara ini. Hewan kurban bisa ayam atau babi, ditambah beberapa jenis pelengkap lain seperti tuak, saguwer, ketan panggang dan variasi lain berdasarkan kepercayaan tiap suku. Kegiatan ini bisa dilakukan berulang, bedanya pada masyarakat Melayu yang masih menggunakan istilah yang sama, tolak bala, pada masyarakat Dayak dinamakan ngampun. Pengulangan bisa dilakukan sewaktu-waktu sesuai kesepakatan bersama atau jika diperlukan, misalnya terjadi kejadian-kejadian yang dianggap bagian kemarahan penguasa alam terhadap sikap maupun tingkah laku manusia. (Sesilia Nina)

 
Listrik Tenaga Mikro Hidro Pertama PDF Print E-mail

CIFOR dan Riak Bumi telah memfasilitasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Danau Sentarum. Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian aksi partisipatif yang coba dikembangkan CIFOR dan Riak Bumi di kawasan konservasi ini. Listrik begitu penting bagi masyarakat pedalaman yang jauh dari jangkuan jaringan listrik negara, di satu sisi listrik dengan tenaga mesin generator memerlukan bahan bakar yang tidak lagi terjangkau rakyat. Inisiatif membangun PLTMH  sungguh pilihan tepat di samping menghadirkan energi alternatif, juga berkaitan erat dengan upaya menjaga lingkungan, mengingat sumber utama energi ini adalah aliran air sungai yang berasal dari microhydrokawasan berhutan. Diharapkan, hadirnya energi ini turut menambah penghargaan masyarakat atas manfaat lain dari lestarinya lingkungan. Adalah masyarakat Rumah Panjang Sungai Pelaik yang kali ini mengambil inisiatif pertama dengan belajar ke teman-teman di Gunung Simpang, Cianjur Selatan tentang PLTMH lewat jaringan pembelajaran (Shared Learning) yang dikembangkan CIFOR dan PILI. Inisiatif masyarakat Sungain Pelaik ini mendapatkan dukungan dana dari Kedutaan Jerman lewat Proyek Skala Mikro.

 

 

 
<< Start < Prev 1 2 3 Next > End >>

Results 11 - 20 of 22